Perkembangan Ekonomi Global – Akhir Februari 2026

Dipublikasikan: 28 Feb 2026 22:06  •  105 views
Padang, Menjelang akhir Februari 2026, ekonomi global menunjukkan dinamika yang kompleks di tengah berbagai tekanan makro dan geopolitik. Indeks saham utama di Wall Street mengalami penurunan, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq tertekan oleh kekhawatiran terhadap valuasi, dampak teknologi, serta volatilitas pasar yang meningkat. Sektor teknologi, terutama perusahaan yang sebelumnya menjadi pendorong utama pasar, kini mengalami rotasi investor ke sektor-sektor siklikal dan defensif, mencerminkan perubahan aliran modal di tengah ketidakpastian.

Di sisi lain, tekanan inflasi tetap menjadi isu sentral. Data menunjukkan Producer Price Index (PPI) inti di Amerika Serikat meningkat lebih cepat dari perkiraan, yang dapat mempersulit jalur kebijakan suku bunga lanjutan oleh bank sentral besar seperti Federal Reserve.

Sementara itu, di zona euro, inflasi konsumen tercatat turun dan berada di bawah target 2%, menunjukan upaya desinflasi sedang berlangsung, namun indikator lain seperti produksi jasa masih fluktuatif.

Pasar komoditas menunjukkan respons terhadap gejolak geopolitik, dengan harga minyak mentah melonjak akibat kekhawatiran terhadap pasokan global di tengah ketegangan di Timur Tengah.

Di Indonesia, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan stabilitas dan momentum pertumbuhan yang terjaga. Bank Indonesia melaporkan bahwa nilai tukar rupiah relatif stabil, ditutup pada sekitar Rp16.750 per dolar AS, sementara imbal hasil surat berharga negara (SBN) 10 tahun mencatat penurunan ringan, mencerminkan keyakinan pasar terhadap kebijakan moneter yang prudensial.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang tinggi, menunjukkan ketahanan sektor eksternal meskipun mengalami sedikit penurunan dari bulan sebelumnya.

Stabilitas sistem keuangan juga tercatat cukup kuat. Ruang penyaluran kredit masih terbuka, dengan pertumbuhan kredit yang sehat, memberi ruang bagi perbankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia juga melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional yang solid di tahun lalu (2025), dengan pertumbuhan di atas 5% dan perbaikan indikator tenaga kerja, memberikan dasar optimism baru bagi pelaku usaha dan investor untuk melihat potensi pertumbuhan pada awal 2026.

Para ekonom juga memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I–2026 bisa meningkat lebih tinggi dari periode sebelumnya, didukung oleh faktor musiman seperti peningkatan konsumsi menjelang Ramadan dan kebutuhan belanja masyarakat, serta akselerasi investasi.

Komentar Pembaca

Tulis Komentar